GUS JAVAR

10 Fakta Gus Javar Pasuruan Yang Fenomenal di Tahun 2020

10 Fakta Gus Javar Pasuruan Yang Fenomenal di Tahun 2020

 

 10 Fakta Tentang Gus Javar Pasuruan 

Gus Javar, nama ini begitu populer di Internet bahkan ratusan youtuber membuat video dengan tema atau konten gus javar, Jumlah viewer dan followersnya pun mencapai ratusan ribu.

Fenomena ini dimulai sejak tahun 2018, popularitas gus javar meroket di tahun tersebut dengan munculnya video tentang gus javar. Sosok unik nyeleneh yang sangat di hormati olah warga pasuruan atau pun warga luar.

Untuk lebih mengenal sosok Gus Javar berikut ini 10 Fakta yang harus anda ketahui tentang Gus Javar.

  1. MEMILIKI PONDOK PESANTREN, Gus Javar yang merupakan putra seorang Kyai di Pasuruan ini memang memiliki Pondok Pesantren yang dikelola oleh keluarga Gus Javar sendiri. Nama Pondok Pesantren itu adalah BaidurRohman dan masih aktif sampai sekarang. 
  2. GURU NGAJI, Menurut kesaksian beberapa warga pasuruan, dahulu di tahun 2000an Gus Javar adalah seorang guru ngaji dan beberapa warga memberikan kesaksian bahwa pernah menjadi murid ngaji dari gus javar.
  3. GEMAR MENUNTUT ILMU , Dari beberapa video yang beredar saat gus javar masih muda, terlihat bahwa sosok gus javar ini sangat gemar belajar ilmu agama, dan sering tampil di beberapa perayaan umat islam di kampungnya.
  4. SOSOK TAMPAN, Di waktu muda beberapa kesaksian warga sekitar mengatakan bahwa dahulu gus javar adalah seorang pria yang sangat tampan, sosok tinggi tegap dengan wajah bersih, dengan pakaian gamis dan sorban, gus javar terlihat sangat berwibawa.
  5. MENGALAMI DJAZAB, Jadab atau Djazab adalah fenomena dimana ketika seseorang dicabut akal sehatnya dan mengalami kondisi seperti orang gila. Namun perbedaan dengan orang gila pada umumnya orang djazab terlihat sangat mencintai Allah, dan memang sosok gus javar yang djazab ini adalah karena kecintaannya terhadap Allah Penguasa Alam Semesta ini.
  6. TIDAK PERDULI HARTA, banyak kesaksian yang menyebutkan bahwa sosok gus javar sangat tidak perduli dengan harta atau uangnya. bahkan di akhir tahun 2017 gus javar membayari rombongan ratusan orang untuk ber wisata ke bali dan jakarta. 
  7. MEMBAWA KEBERKAHAN, Secara fakta telah diketahui keberadaan Gus Javar ini memberi keberkahan kepada penduduk sekitar. Banyak nya tamu tamu yang ingin sowan ke Gus  Javar memberikan kehidupan ekonomi di lingkungan sekitar, saat ini di Lapangan Gayam banyak warga yang berjualan karena ramainya orang yg ingin mengunjungi Gus Javar.
  8. MISTERI KONSER MUSIK, Tidak ada yang paham apa maksud Gus Javar mengadakan konser musik yang konon hingga 4 panggung dalam satu lapangan. Dan biaya yang dikeluarkan pun mencapai ratusan juta rupiah. sampai saat ini tidak ada yang paham.
  9. MISTERI ASAL UANG, Hal ini yang menjadi pergunjingan banyak netizen. Dari manakah asal usul uang gus javar? Gus Javar menghabiskan ratusan juta untuk konser musik, perjalanan liburan warga dan lain lai, tidak ada yang tahu bagaimana Gus Javar bisa memiliki uang ratusan juta ini.
  10. MISTERI KEWALIAN, Masih pertentangan pakah gus javar ini adalah seorang wali allah atau bukan? Yang jelas yang bisa mengetahui kewalian seseorang adalah wali, dan hanya orang yang diberikan izin Allah untuk mengetahui kewalian seseorang. Begitu juga dengan sosok Gus Javar ini tidak ada yang tahu apakah dia sosok Wali Allah atau bukan. Wallahu'Alam.


 Awal muasal netizen mengkaitkan sosok gus javar dengan sosok yang ada di cerpen gus mus, banyak yang penasaran apakah sosok tersebut yang diceritakan di cerpen gus mus adalah gus javar pasuruan.

Namun sebenarnya sosok yang dicertikan oleh gus mus adalah berbeda dengan gus javar di pasuruan, hanya saja memang sekilas agak mirip karakternya.

Berikut ini cerpen lengkap dari gus mus yang menceritakan tentang sosok Gus Javar.

 

CERPEN GUS MUS TENTANG GUS JAVAR

 
Gus Javar adalah Javar Kyai Nyentrik Dari Pasuruan  yang sangat fenomenal dan di segani masyarakat selain ahli bersedekah dan membantu masyarakat Gus Javar juga sering memberikan nasihat nasihat yang bermakna tinggi berikut adalah Kisah Gus Javar Kyai Nyentrik Dari Pasuruan  Dalam Cerpen Gus Mus yang Fenomenal :
 
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Javar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat.
 
Mungkin Gus Javar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.
 
“Kata Kiai, Gus Javar itu lebih tua dari beliau sendiri,” cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.”
 
“Tapi, Gus Javar memang luar biasa,” kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. “Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi.
 
Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Javar. 
 
Waktu itu Gus Javar bilang, ‘Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?’ Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya.”
 
“Kang Kandar kan juga begitu,” timpal Mas Guru Slamet.
 
“Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Javar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, ‘Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?’
 Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal.”
 
“Ya. Waktu itu saya pikir Gus Javar hanya berkelakar,” sahut Ustadz Kamil, “Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar.”
 
 
“Saya malah mengalami sendiri,” kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara.
 
“Waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Javar bilang kepada saya, ‘Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?’ 
 
Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi.”
 
“Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?” tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
“Mungkin saja,” jawab Ustadz Kamil. “Makanya saya justru takut ketemu Gus Javar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu.”
 
Maka, ketika kemudian sikap Gus Javar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau.
 
Mula-mula Gus Javar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
 
“Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu,” komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. “Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?”
 
“Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu,” kata Lik Salamun. “Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah.”
 
“Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya,” ujar Ustadz Kamil. “Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Javar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu.
 
Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau.”
 
 
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum’at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Javar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. 
 
Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Javar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.
 
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: 
 
“Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan.”
 
“Perubahan apa?” tanya Gus Javar sambil tersenyum penuh arti. “Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah.”
 
“Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang,” tukas Mas Guru Slamet, “kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau.”
 
“O, itu,” kata Gus Javar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. 
 
Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, “Ceritanya panjang.” Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
 
“Kalian ingat, saya lama menghilang?” akhirnya Gus Javar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. 
 
Maka serempak kami mengangguk. “Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan.
 
Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing.”
 
“Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. 
 
Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau.
 
 
Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk.”
 
‘Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu’ katanya. ‘Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu.
 
Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. 
 
Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?’
‘Kiai Tawakkal.’
 
‘Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.’
 
“Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu.”
 
“Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. 
 
Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka.
 
Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. 
 
Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. 
 
Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah.”
Tiba-tiba Gus Javar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, 
 
“Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi ‘Ahli Neraka’.
 
Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. 
 
Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. 
 
Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. 
 
Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!”
 
“Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. 
 
Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan.
 
Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya.
 
 
Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. 
 
Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka.”
 
“Baru setelah beberapa minggu tinggal di ‘pesantren bambu’, saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. 
 
Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya.”
 
“Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. 
 
Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. 
 
Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.
 
Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? 
 
Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang.”
 
“Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. 
 
Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali.
Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. 
 
Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. 
 
Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.
 
‘Mas Jakfar!’ tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya.

Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. 
 
Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti.
Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, ‘Kasi kawan saya ini tempat sedikit!’ Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 
 
‘Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya’. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan”.
 
“Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, ‘Minum kopi ya?!’ Saya mengangguk asal mengangguk. 
 
‘Kopi satu lagi, Yu!’ kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. ‘Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! 
 
Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk.”

“Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan ‘kawan-kawan’-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini.
 
Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya?
 
Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah.”
 
‘Mas, sudah larut malam,’tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. ‘Kita pulang, yuk!’ Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar.
 
Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. ‘Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!’ katanya.”
 
“Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja.
 
Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. ‘Ayo!’ teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar.
 
Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. ‘Kita istirahat sebentar,’ katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 
 
‘Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.’
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 
 
‘Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut?
 
Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?’ Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. 
 
Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara
 
‘Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda “Ahli Neraka” di kening saya. 
 
Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka.
 
Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. 
 
Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka.
 
Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? 
 
Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka?

Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat de
ngan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. 
 
Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?’
 
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. ‘Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah.
 
Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. 
 
Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri.
 
Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. 
Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak’
 
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.
 
‘Ayo kita pulang!’ tiba-tiba Kiai bangkit. ‘Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.’ 
 
Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini.”
 
“Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu.
 
Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. 
 
Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada.
Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya.
 ‘Apakah sampeyan Jakfar?’ tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. ‘Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.’
 
‘Beliau di mana?’ tanya saya buru-buru.
 
‘Mana saya tahu?’ jawabnya. ‘Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.’
 
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri.”
 
Gus Javar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Javar kembali menawarkan suguhannya. 
 

Pengertian dan Penjelasan Ilmu Tasawuf Dalam Islam

Pengertian dan Penjelasan Ilmu Tasawuf Dalam Islam

Tasawuf adalah bagian dari perkembangan ajaran islam dari yang di bawa oleh para sufi. Dalam rukun islam dan rukun iman mengenai tasawuf memang tidak terdapat dan disebutkan secara eksplisit. Namun kandungan nilai nilai tasawuf merupakan penjabaran dari adab dalam islam secara rinci.


 

Ajaran tasawuf sendiri dianggap berasal dari berbagai pengaruh ajaran agama atau filsafat lain yang akhirnya diadopsi dan disesuaikan dengan konsep islam. 

Untuk itu terdapat pro kontra mengenai hal tersebut. Tentu saja hal ini tidak boleh bertentangan dengan Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.

PENGERTIAN ILMU TASAWUF

Menurut Etimologi


Pengertian tasawuf menurut etimologi juga pendekatan lainnya, terdapat perbedaan. Secara umum, diantara perbedaan tersebut tentu ada garis merah atau benang merah yang dapat ditarik.

    Berasal dari Kata Shuffah

Tasawuf berasal dari istilah shuffah. Shuffah berarti serambi tempat duduk. Suffah berasal di serambi masjid Madinah yang disediakan untuk mereka yang belum memiliki tempat tinggal atau rumah dan dari orang-orang muhajirin yang ada di Masa Rasulullah SAW. Mereka dipanggi sebagai Ahli Suffah atau Pemilik Sufah karena di serambi masjid Madinah itulah tempat mereka.

    Berasal dari Kata Shaf

Selain itu, istilah tawasuf juga berasal dari kata Shaf. Shaf memiliki arti barisan. Istilah ini dilekatkan kepada tasawuf karena mereka, para kaum sufi, memiliki iman yang kuat, jiwa dan hati yang suci, ikhlas, bersih, dan mereka senantiasa berada dalam barisan yang terdepan jika melakukan shalat berjamaah atau dalam melakukan peperangan.

    Berasal dari Kata Shafa dan Shuafanah

Istilah Tasawuf juga ada yang mengatakan berasal dari kata shafa yang artinya bersih atau jernih dan kata shufanah yang memiliki arti jenis kayu yang dapat bertahan tumbuh di daerah padang pasir yang gersang.

    Berasal dari Kata Shuf

Pengertian Tasawuf juga berasal dari kata Shuf yang berarti bulu domba. Pengertian ini muncul dikarenakan kaum sufi sering menggunakan pakaian yang berasal dari bulu domba kasar. 

Hal ini melambangkan bahwa mereka menjunjung kerendahan hati serta menghindari sikap menyombongkan diri. 

Selain itu juga sebagai simbol usaha untuk meninggalkan urusan-urusan yang bersifat duniawi. 

Orang-orang yang menggunakan pakaian domba tersebut dipanggil dengan istilah Mutashawwif dan perilakunya disebut Tasawuf.
Menurut Terminologi

Pengertian tasawuf menurut terminologi dari para ahli sufi juga terdapat varian-varian yang berbeda. Hal ini dapat dijelaskan dari berbagai pandangan sufi berikut:

    Menurut Imam Junaid

Menurut seorang sufi yang berasal dari Baghdad dan bernama Imam Junaid, Tasawuf memiliki definisi sebagai mengambil sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah.

    Menurut Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili


Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang syekh yang berasal dari Afrika Utara. Sebagai seorang sufi ia mendefinisikan tasawuf sebagai proses praktek dan latihan diri melalui cinta yang mendalam untuk ibadah dan mengembailikan diri ke jalan Tuhan.

    Sahal Al-Tustury


Sahal Al Tustury mendefinisikan tasawuf sebaai terputusnya hubungan dengan manusia dan memandang emas dan kerikil. Hal ini tentu ditunjukkan untuk terus menerus berhubungan dan membangun kecintaan mendalam pada Allah SWT.

    Syeikh Ahmad Zorruq

Menurut Syeikh Ahmaz Zorruq yang berasal dari Maroko, Tasawuf adalah ilmu yang dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata untuk Allah dengan menggunakan pengetahuan yang ada tentang jalan islam. 

Pengetahuan ini dikhususkan pada pengetahuan fiqh dan yang memiliki kaitan untuk mempebaiki amalan dan menjaganya sesuai dengan batasan syariah islam. Hal ini ditujukan agar kebikjasanaan menjadi hal yang nyata.
Secara Umum

Dari pengertian tasawuf secara etimologi dan terminologi dapat diambil kesimpulan bahwa Tasawuf adalah pelatihan dengan kesungguhan untuk dapat membersihkan, memperdalam, mensucikan jiwa atau rohani manusia. Hal ini dilakukan untuk melakukan pendekatan atau taqarub kepada Allah dan dengannya segala hidup dan fokus yang dilakukan hanya untuk Allah semata.

Untuk itu, tasawuf tentu berkaitan dengan pembinaan akhlak, pembangunan rohani, sikap sederhana dalam hidup, dan menjauhi hal-hal dunia yang dapat melenakan. 

Tentu hal ini bisa membantu manusia dalam mencapai tujuannya dalam hidup. Untuk itu, praktik tasawuf ini dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin membangun akhlak yang baik, sikap terpuji, kesucian jiwa, dan kembalinya pada Illahi dalam kondisi yang suci.

Secara umum, tentu ajaran tasawuf jika dikembangkan tidak boleh bertentangan dan juga bersebrangan dengan ajaran yang berasal dari Wahyu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Sebagai bentuk kecintaan manusia kepada Rasulullah tentunya juga harus tetap melaksanakan ibadah sebagaimana Rasul ajarkan.
Landasan Tasawuf dalam Al-Quran

Mengenai tasawuf, beberapa sufi menyandarkan pengertian dan dasar-dasarnya kepada ayat-ayat Al-Quran. Ajaran tasawuf diidentikkan dengan ajaran islam walaupun agama lain juga memiliki hal yang serupa dengan tasawuf. Berikut adalah ayat-auat Al-Quran yang berkenaan dengan dasar tasawuf menurut para sufi:

    QS Al Baqarah : 115

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

    QS Al Baqarah : 186


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    QS Qof : 16

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

    QS Al Kahfi : 65


“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

Dalam pelaksanaan praktik tasawuf, tentunya manusia jangan sampai lupa dan meninggalkan juga bagaimana aktivitas kehidupan berdasarkan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama islam.

Melaksanakan praktik tasawuf bukan berarti sama dengan meninggalkan juga usaha untuk dapat Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. 

Dunia Menurut Islam memang bukanlah segala-galanya, dan tidak boleh terlena dengannya. Namun Allah pun juga menyuruh manusia untuk dapat mengoptimalkan kehidupan dunia agar dapat meraih Sukses Menurut Islam.